Sabtu, 11 Desember 2021

Revisi Peraturan PPKM : Kenapa Peraturan Mengalami Perubahan ?

 

    Image Source : a-Rehab-Center-in-Los-Angeles.jpg (800×533) (thewwnews.com)

Halo readers! Kita kembali lagi nih ke teori yang membahas tentang peraturan yang terdapat di suatu struktur kelompok atau organisasi. Sebelumnya kita sudah mebahas secara lengkap mengenai Structuration Theory, mulai dari pengertiannya, ahli-ahli yang mencetuskan, asumsi, hingga elemen-elemen dari teori tersebut.

Supaya kita jadi makin paham dengan teori ini, yuk kita bersama-sama mempelajari contoh penerapan Structuration Theory dalam kehidupan sehari-hari! Mari belajar!

Sebelum itu, mari kita sedikit ulas kembali inti dari Structuration Theory.

Structuration Theory adalah sebuah teori yang membahas tentang peraturan yang terdapat di suatu struktur organisasi. Kehidupan manusia erat kaitannya dengan peraturan. Di mana pun kita berada saat ini, kita tidak akan bisa lepas dari sebuah peraturan.  Teori ini berkaitan dengan Uncertainity Theory, karena manusia tidak menyukai ketidakpastian, maka dibuat sebuah peraturan. Menurut Giddens, aturan itu seperti pedang yang memiliki dua sisi. Peraturan tersebut bisa membuat kita menjadi individu yang lebih teratur, tetapi di lain sisi peraturan menjadi suatu hal yang sedikit memberatkan kita. Nah, kalo kalian lebih setuju kalo peraturan membuat kita teratur atau membuat kita keberatan?

Mari kita pelajari dari sebuah contoh sederhana. Misalnya, ketika Budi baru saja pindah dari sekolah lamanya, yaitu dari sekolah A ke sekolah B. Secara geografis, Budi memang sudah pindah ke sekolah B. Tetapi secara lingkungan, Budi belum pindah dan diterima seutuhnya di lingkungan sekolah B. Hmm, kira-kira kenapa ya? Jadi, Budi belum diterima seutuhnya di lingkungan sekolah B karena Budi belum beradaptasi dengan struktur yang terdapat di lingkungan sekolah barunya. Ketika nanti Budi sudah mulai beradaptasi dan mengikuti peraturan yang ada di sekolah B, baru terbukti bahwa Budi merupakan bagian dari struktur yang ada. Seperti itulah Structuration Theory.

Contoh penerapan Structuration Theory dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan beberapa asumsi-asumsi teori :

Grup dan Organisasi Diproduksi Melalui Penggunaan Aturan dan Sumber Daya

Setiap tindakan atau perilaku yang melibatkan kelompok atau organisasi mempengaruhi masa lalu. Contohnya, seperti beberapa saat yang lalu ketika beberapa wilayah di Indonesia sedang berlaku PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat akibat virus Covid-19 yang semakin mewabah. Pemerintah ingin setiap masyarakat mematuhi seluruh peraturan yang sudah ditetapkan. Namun untuk memperoleh peraturan yang sesuai dengan tujuan bersama, bisa diterima oleh seluruh masyarakat, serta tentunya berdasarkan situasi keadaan yang sedang terjadi, pemerintah melalukan beberapa hal terhadap peraturan yang sudah tersedia, yaitu :

1.     Membuat aturan baru atau harapan baru

Dalam gambar sebelumnya mengenai revisi aturan PPKM darurat, pemerintah terlihat jelas ingin membuat aturan baru dengan harapan baru untuk mencapai tujuan bersama, yaitu agar wabah Covid-19 yang sedang melonjak di Indonesia bisa dihadapi dengan baik. Pemerintah membuat dan merevisi aturan-aturan mengenai PPKM darurat karena menilai aturan-aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya kurang efektif atau bahkan tidak efektif untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

Maka atas pengaruh masa lalu (peraturan yang sebelumnya) tersebut, Pemerintah akhinya membuat dan merevisi peraturan PPKM darurat. Hal ini memperlihatkan dengan jelas bahwa masa lalu sangat mempengaruhi pembuatan peraturan baru di dalam suatu kelompok.

        2. Mengubah Aturan yang ada

Pemerintah ingin merevisi dan memperbaharui peraturan PPKM. Pemerintah ingin mengubah peraturan mengenai beberapa hal, di antaranya adalah mengenai, kegiatan perkantoran, kegiatan belajar mengajar, kegiatan di pusat belanja/mall, restoran, tempat ibadah, kegiatan sosial budaya, dll. Contohnya, pada level PPKM mikro WFH di zona merah hanya dibatasi 75% dan di zona lainnya WFH dibatasi 50%, sedangkan pada PPKM darurat seluruh kegiatan untuk sektor non-esensial dilakukan 100% WFH karena pada peraturan sebelumnya terlihat kurang efektif dalam menghadapi penyebaran virus Covid-19.

Untuk memperbaharui peraturan tersebut, pemerintah pastinya menggunakan peraturan yang sudah ada sebelumnya sebagai tolak ukur apakah peraturan baru efektif untuk diterapkan kepada masyarakat sekaligus menjadi pemandu dalam proses pembuatan aturan tersebut. Dalam contoh ini sangat terlihat bahwa masa lalu sangat mempengaruhi pembaharuan peraturan yang terjadi.

    3. Menegaskan kembali aturan yang telah digunakan di masa lalu

Selain mengubah dan merevisi peraturan PPKM darurat, pemerintah juga melakukan penegasan pada beberapa pertauran yang berlaku di PPKM mikro dan akan kembali diberlakukan saat PPKM darurat. Peraturan tersebut mengenai aturan pada rumah ibadah dan kegiatan sosial yang akan tetap ditiadakan untuk sementara.

Keputusan tersebut diambil karena melihat peraturan sebelumnya yang juga menerapkan hal tersebut. Peraturan tersebut dinilai efektif, sehingga bisa digunakan kembali. Namun jika peraturan tersebut dinilai kurang efektif, peraturan tersebut tidak akan digunakan lagi.

Struktur kekuasaan hadir dalam organisasi dan memandu proses pengambilan keputusan

Dalam pembuatan peraturan dalam suatu kelompok, terdapat salah satu faktor yang berperan  penting yang dalam proses tersebut. Faktor tersebut adalah kekuasaan dari pemimpin. Teori ini mengasumsikan bahwa struktur kekuasaan memandu pengambilan keputusan yang terjadi di dalam kelompok.

Contohnya, ketika penyebaran virus Covid-19 di Indonesia meningkat, kemungkinan besar para masyarakat akan bertanya mengenai tanggapan pemerintah dan bagaimana masyarakat harus bertindak. Karena pada dasarnya manusia menyukai suatu hal yang pasti, akhirnya pemerintah yang sekaligus sosok yang memegang kekuasaan di dalam kelompok masyarakat tersebut membuat peraturan yang terstruktur dan tertata mengenai segala hal mengenai peraturan selama PPKM darurat.

Nah setelah semakin dalam kenal sama Structuration Theory, kira-kira apa nih pendapat kalian mengenai teori ini? Jangan lupa tulis di kolom komentar, ya! Terima kasih >_<

Penulis adalah mahasiswa semester I jurusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia.


Kamis, 02 Desember 2021

Structuration Theory


Image souce : Anthony Giddens - People - Berggruen Institute

Halo, readers! Kalian pernagak sih menjadi anggota dari suatu organisasi lalu terikat sama beberapa aturan? Kira-kira kalian ngerasa tertekan dengan peraturan itu atau mungkin kalian senang terikat dengan suatu aturan? Kalian tau gak sih kalau peraturan yang ada di dalam organisasi itu ada teorinya? Ternyata ada, lho! Teorinya adalah Structuration theory atau yang biasa dikenal dengan “Teori Penstrukturan Adaptif ”, teori ini merupakan teori yang menjelaskan mengenai peraturan yang terdapat di suatu struktur organisasi. Teori ini dicetuskan oleh 4 orang ahli, lho! Siapa aja sih ahli-ahlinya? 

1. Anthony Giddens

Anthony Giddens merupakan seorang sosiolog di Inggris yang berasal dari Britania Raya, Giddens lahir di London pada 18 Januari 1938. Sosiolog ini berhasil dikenal banyak orang berkat structuration theory.

2Marshall Scott Poole

Marshall Scott Poole merupakan seorang ahli yang lahir pada 1951, Poole merupakan seorang peneliti komunikasi dan profesor komunikasi di University of Illinois, Urbana.

3. David R. Seilbod

David R. Seilbod merupakan seorang profesor di University of California, Santa Barbara.

4. Robert D. McPhee

Robert D. McPhee merupakan Marshall Scott Poole yang berasal dari University of California.

Teori ini menjelaskan bahwa setiap organisasi pasti memiliki struktur yang dapat diinterpretasikan menjadi peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh seluruh elemen struktur organisasi.

Anthony Giddens (1979)

Anthony Giddens mengibaratkan peraturan seperti pedang yang memiliki 2 sisi. Peraturan tersebut bisa membuat kita menjadi individu yang lebih teratur, tetapi di lain sisi peraturan menjadi suatu hal yang sedikit memberatkan kita.

Menurutnya, organisasi akan menciptakan struktur yang dapat diartikan sebagai aturan dan sumber daya organisasi. Pada gilirannya, struktur ini menciptakan sistem sosial dalam suatu organisasi. Organisasi mencapai kehidupan mereka sendiri karena cara anggota mereka menggunakan struktur tersebut. Di sinilah, struktur kekuasaan yang menuntun proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok atau organisasi.

Anthony juga berasumsi bahwa perilaku dari setiap anggota kelompok dipengaruhi oleh tiga elemen tindakan, yaitu :

1. Interpretasi

2. Moralitas

3. Kekuasaan

Marshall Scott Poole (1990), David R. Seibold dan Robert D. McPhee (1985&1996)

Marshal Scott Poole melakukan pengembangan dan memperluas teori Anthony Giddens menganai structuration theory sebelumnya. Bersama rekan-rekannya yang berasal dari University of California yaitu David R. Seibold dan Robert D. McPhee, Marshal Scott Poole kembali melakukan suatu program penelitian yang menerapkan teori ini pada beberapa proses pengambilan keputusan yang terjadi di dalam suatu kelompok atau organisasi.

Marshal Scott Poole juga mengatakan bahwa setiap individu menciptakan dan membentuk suatu kelompok sebagaimana mereka berperilaku di dalam kelompok tersebut. Seperti apa yang dikatakan oleh Anthony Giddens,  bahwa perilaku dari setiap anggota kelompok dipengaruhi oleh tiga elemen, yaitu interpretasi, moralitas, dan kekuasaan. Ketiga elemen tersebut akan menghasilkan hasil yang menarik jika dikolaborasikan atau digabungkan dalam proses pembuatan keputusan di dalam suatu kelompok atau organisasi.

Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Marshall Scott Poole bersama rekan-rekannya yaitu David R. Seibold dam Robert D. McPhee, Marshall Scott Poole menemukan hasil bahwa secara umum terdapat tiga jenis rangkaian keputusan, yaitu :

  1. A Standart Unitary Sequence, yaitu merupakan rangkaian standar tunggal yang serupa dengan model urutan tunggal.
  2. Complex Cyclic Sequence, pada rangkaian ini kelompok akan melihat ke berbagai arah dengan tujuan untuk mencari kejelasan masalah dan mencari solusi yang terbaik.
  3. Solution Oriented Sequence, pada rangkaian ini seluruh fokus diberatkan kepada pencarian solusi. Maka tidak dilakukan analisis yang mendalam.

Structuration Theory juga memiliki beberapa asumsi, lho! Kira-kira apa aja sih? Berikut asumsi-asumsi dari Structuration Theory 

Grup dan Organisasi Diproduksi Melalui Penggunaan Aturan dan Sumber Daya

Setiap tindakan atau perilaku yang melibatkan kelompok atau organisasi mempengaruhi masa lalu. Riwayat ini berfungsi sebagai referensi untuk memahami aturan atau sumber daya apa yang diperlukan untuk beroperasi di dalam grup atau organisasi. Perlu juga untuk kita ingat bahwa setiap kali kita berkomunikasi dengan seseorang, kita membangun awal yang baru dengan :

  • Membuat aturan atau harapan baru

Dalam membangun awal yang baru , kita masih mengandalkan aturan dan harapan masa lalu untuk memandu perilaku kita.  Jadi, kita tidak pernah lepas dari sejarah kita. sejarah terus mempengaruhi keputusan kita untuk berperilaku dalam kelompok dan organisasi.

  • Mengubah aturan yang ada

Hal ini juga mempengaruhi perubahan yang mungkin terjadi dalam sistem. Semua tindakan komunikatif kita ada dalam hubungan dengan masa lalu. Aturan historis akan digunakan sebagai referensi untuk mengubah aturan grup dalam interaksi di masa mendatang.

  • Menegaskan kembali aturan yang telah digunakan dalam masa lalu

Jika aturan bekerja dengan baik di masa lalu, kemungkinan akan dipertahankan. Namun jika tidak, kemungkinan akan diubah atau ditinggalkan. Tantangannya terletak pada penentuan aturan mana yang paling efisien atau produktif dalam mencapai tujuan kelompok atau organisasi.

Aturan Komunikasi Berfungsi Sebagai Media dan Hasil Dari Interaksi

Structuration theory adalah gagasan bahwa aturan secara bersamaan memberikan pedoman dan membatasi perilaku kelompok. Struktur kelompok mencakup jaringan aturan dan sumber daya yang digunakan oleh anggotanya dalam membuat keputusan tentang perilaku komunikasi apa yang diharapkan.

Katherine Miller (2005)

Katherine Miller membahas pentingnya sebuah aturan dalam kelompok atau organisasi. Menurutnya, aturan bertindak sebagai resep untuk kehidupan sosial karena aturan merupakan prosedur yang dapat digeneralisasikan tentang bagaimana cara untuk menyelesaikan sesuatu.

Structuration theory mengasumsikan bahwa untuk memahami aturan dari suatu sistem sosial, individu perlu mengetahui beberapa sumber daya latar belakang yang mengarah pada aturan tersebut.

Struktur Kekuasaan Hadir Dalam Organisasi dan Memandu Proses Pengambilan Keputusan

Kekuasaan adalah kekuatan yang berpengaruh dalam mencapai keputusan dalam organisasi. Dalam structuration theory, kekuasaan dianggap sebagai kemampuan untuk mencapai hasil dan memungkinkan kita untuk mencapai tujuan kita. Penting untuk mempertimbangkan peran yang dimainkan aturan dalam diskusi tentang kekuasaan ini. Berdasarkan sejarah berdirinya suatu organisasi, biasanya aturan telah ditetapkan untuk memberikan beberapa anggota suatu bentuk kekuasaan tertentu atas pemaksaan kekuasaan lain atas kehendak pribadi pada orang lain.

Elemen-Elemen Pada Structuration Theory


Agency and Reflexivity

  • Agency/Agensi

Agensi didefinisikan sebagai perilaku atau aktivitas spesifik yang dilakukan manusia dan yang dipandu oleh aturan dan konteks di mana interaksi berlangsung. Sedangkan agen mengacu pada orang yang terlibat dalam perilaku ini.

  • Reflexivity/Refleksivitas

Refleksivitas mengacu pada kemampuan seseorang untuk memantau tindakan dan perilaku mereka. Intinya, anggota sebuah organisasi mampu melihat ke masa depan dan membuat perubahan dalam struktur organisasinya jika tampak seolah-olah hal-hal tidak akan berjalan sesuai dengan rencana.

Duality of Structure

  • Rules

Rules/aturan digunakan untuk merujuk pada rutinitas umum yang dimiliki atau diikuti organisasi dalam mencapai sasaran. Daripada melihat aturan sebagai pedoman ketat mengapa sesuatu harus dilakukan akan lebih berguna untuk melihatnya sebagai instruksi manual tentang bagaimana suatu tujuan bisa tercapai.

  •  Resources

Resources mengacu pada kekuatan yang dibawa individu ke dalam kelompok atau suatu organisasi. Kekuatan ini berpengaruh karena mengarahkan individu untuk mengambil tindakan atau memulai suatu perubahan. Pada resources ini terdapat dua jenis, yaitu authoritative resources (karakteristik interpersonal) dan allocative resources (bantuan dalam bentuk materi).

Nah sekarang sudah kenal kan sama Structuration Theory? Ternyata banyak ya hal sederhana yang ternyata punya penjelasan secara teoritis.

Kalau menurut kalian, apa nih yang paling menarik dari teori ini? Jangan lupa ketik di kolom kometar ya! Terima kasih.

Penulis adalah mahasiswa semester I jurusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia.

Revisi Peraturan PPKM : Kenapa Peraturan Mengalami Perubahan ?

      Ima ge   Source :  a-Rehab-Center-in-Los-Angeles.jpg (800×533) (thewwnews.com) Halo readers ! Kita kembali lagi nih ke teori yang memb...